Langsung ke konten utama

GANGGUAN PERKEMBANGAN GIZI KURANG PADA AUD


ANAK KEKURANGAN GIZI


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Deteksi Dini Tumbuh Kembang AUD 
Oleh Dosen Pengampu Dr, Anik Lestariningrum, M.Pd



Oleh :     
       
Ana Nur Hidayah               : 16.1.01.11.0003
                                 
Dewi  Yuliani                      : 16.1.01.11.0006

Yesi Karela                         : 16.1.01.11.0011


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI
Jalan KH. Ahmad Dahlan No. 6, Mojoroto, Kediri, Jawa Timur 64112
2 0 1 9


1.       Pengertian Kekurangan Gizi
Keadaan kurang zat gizi tingkat sedang yang disebabkan oleh rendahnya asupan energi dan protein dalam waktu cukup lama yang ditandai dengan berat badan menurut umur (BB/U) yang berada pada <-2 SD sampai >-3SD tabel baku WHO-NCHS .
Gizi merupakan bagian dari proses kehidupan dan proses tumbuh kembang seseorang, sehingga pemenuhan kebutuhan gizi secara adekuat turut menentukan kualitas tumbuh kembang sebagai sumber manusia di masa datang, (Soetjiningsih 2002).
Gizi adalah suatu proses organisme mengunakan makanan yang di konsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat gizi yang tidak di gunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi, (Cipto Mangunkusumo 1992).
Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Kekurangan zat gizi adaptif bersifat ringan sampai dengan berat. Gizi kurang banyak terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun.Gizi buruk adalah kondisi gizi kurang hingga tingkat yang berat dan di sebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama, (Khaidirmuhaj, 2009).




2.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
·        Sanitasi dan kebersihan yang buruk sehingga memunculkan penularan penyakit, seperti diare.
·        Masalah pangan di dalam keluarga yang tidak terpenuhi untuk membeli makanan yang cukup.
·        Pola asuh yang kurang baik, terutama ketika pemberian ASI, MPASI serta asupan makanan ibu hamil.
·        Kurangnya layanan kesehatan dalam memberikan informasi untuk mencegah kurang gizi dan penularan penyakit.
·        Penyebab lainnya seperti kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah.
3.       Klasifikasi Status Gizi
Tabel 1.1 Tabel status gizi

INDEKS

AMBANG BATAS

STATUS GIZI

Berat badan menurut umur (BB/U)
< - 3 SD
Gizi buruk
-3 SD ─ < -2 SD
Gizi Kurang
-2 SD ─ + 2 SD
Gizi Normal
˃ + 2 SD
Gizi Lebih

Tinggi badan menurut umur (TB/U)
< - 3 SD
Sangat Pendek
-3 SD ─ < -2 SD
Pendek
-2 SD ─ + 2 SD
Normal
˃ + 2 SD
Sangat Tinggi

Berat badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

< -3 SD
Sangat Kurus
-3 SD ─ < -2 SD
Kurus
-2 SD ─ + 2 SD
Normal
˃ + 2 SD
Gemuk


u    Indeks antropometri
Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Beberapa indeks antropometri, sebagai berikut:
·        BB/U (Berat Badan terhadap Umur)
- Indikator status gizi kurang saat pengukuran.
- Sensitif terhadap perubahan kecil.
- Terkadang umur secara akurat sulit didapat.
- Untuk monitoring pertumbuhan.
- Pengukuran yang berulang dapat mendeteksi growth failure.
·        TB/U (Tinggi Badan terhadap Umur)
- Indikator status gizi jangka panjang.
- Indikator kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa.
- Skrining anak sehat dengan perawakan pendek (stunting), dengan         
  interpretasi pendek (< -3 SD), normal (-3 SD sampai 97), dan
  tinggi (> 97 SD)
- Terkadang umur secara akurat sulit didapat.
·        BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi Badan)
- Memberikan informasi pertumbuhan dan status gizi pada seorang
  anak, lebih akurat dalam mengklasifikasikan status gizi pada
  anak, untuk skrining anak sehat maupun pada anak malnutrisi
  energi protein
- Diinterpretasikan menjadi BB kurang (< -5 SD), BB normal (-
  5SD sampai 95 SD), dan BB lebih (> 95 SD).
u    Baku acuan (data reference)
Terdapat dua jenis baku acuan, yaitu lokal dan internasional. Ada berbagai macam baku acuan internasional seperti Tanner, Harvard, atau NCHS. Indonesia menggunakan baku acuan internasional WHO-NCHS zscore. Ada 2 cara penghitungan status gizi dengan cara Z-score, yaitu:
a)                                                                                         Bila “Nilai Riel” hasil pengukuran ≥ “Nilai Median” BB/U,
          TB/U, atau BB/TB, maka rumusnya:
Z-Score =
b)                                                                                        Bila “Nilai Riel” hasil pengukuran ≤ “Nilai Median” BB/U, TB/U, atau BB/TB, maka rumusnya:
Z-Score =
4.       Cara Mengidentifikasi Anak Kekurangan Gizi
  • Berat badan dan tinggi badan anak berada di bawah kurva pertumbuhan
  • Kurang nafsu makan
  • Pertumbuhannya terlambat
  • Mudah merasa lelah dan terlihat lesu
  • Lebih rewel
  • Kurang perhatian terhadap lingkungan sekitar
  • Kulit dan rambut tampak kering
  • Rambut mudah rontok
  • Pipi dan mata terlihat cekung
  • Jaringan lemak dan otot berkurang
  • Mulut dan gusi mudah terluka
  • Rentan terkena infeksi karena menurunnya sistem kekebalan tubuh
  • Proses penyembuhan luka lambat
5.       Perbandingan Pertumbuhan Anak Normal dengan Anak Kekurangan Gizi
NAMA ANAK
PERTUMBUHAN ANAK NORMAL
NAMA ANAK
PERTUMBUHAN ANAK YANG KEKURANGAN GIZI
BB
LK
TB
BB
LK
TB
Vita
14 kg
48 cm
97 cm
Zivana
9 kg
42 cm
88 cm
Naisha
13,5 kg
47 cm
94 cm
Salwa
9,6 kg
45 cm
90 cm
Sonia
13,7 kg
50 cm
98 cm




Meysha
14,5 kg
52 cm
96 cm





6.       Pengaruh Kekurangan Gizi pada 3 Aspek Perkembangan Anak
v Aspek Kognitif
Anak-anak dengan berat badan kurang, memiliki tingkat kognitif dan skor prestasi akademik yang lebih rendah pada usia sekolah, dibandingkan anak-anak dengan berat badan normal.
v Aspek Fisik Motorik
Anak yang mengalami masalah kekurangan berat badan, menunjukkan ukuran fisik yang lebih rendah dibandingkan anak dengan berat badan ideal.
v Aspek Sosial-Emosional
Anak yang menagalam masalah kekurangan gizi  menjadi lebih rewel, cenderung pemarah, mudah tersinggung, keterampilan sosial rendah, sulit bergaul.
7.       Solusi Permasalahan
·                    Selalu melakukan pemeriksaan rutin ke dokter atau
          instansi lainnya.
·                    Melakukan perubahan pola makan
·                    Memantau  perkembangan dan status gizi anak
·                     

Komentar